bisa jadi demikian, bisa jadi tidak.
hidup.
semua berasal dari kecil. the question is: kenapa ada yang dilahirkan di keluarga beruntung, ada yang tidak. ada yang normal, ada yang abnormal. ada yang jenius, ada yang tidak, dan ada yang rupawan,ada yang tidak.
entah mengapa hari ini saya begitu tergelitik untuk menyoroti kalimat yang saya cetak tebal itu.
"there's the genius,and there's the idiots"
tergantung semuanya. sangat tergantung.
tergantung apa? ya tergantung manusianya! setiap orang memiliki pandangannya masing masing. ada sebuah kalimat yang yaa.. mungkin ini jokes orang lampau (di Indonesia,for sure..) yang sebenarnya ada pesan yang mengandung makna penting:
"kepala boleh sama hitam,tapi isi kepalanya siapa yang tau?"
yup! satu satunya mahkluk yang memiliki rasional memang hanya manusia (sampai saat ini) entah yaa...kalau berapa ratus tahun lagi,mungkin ada "mahkluk lain" yang bisa berfikir secara rasional dan (mungkin...) menjadi saingan manusia :D
anyway,kembali sama jenius dan idiot. entah apa yang menyebabkan perbedaan diantara 2 hal ini, dalam dunia kedokteran...
terlepas dari hal itu, kadang ada orang yang sesungguhnya ber IQ yang cukup baik namun disangka idiot.
why oh why?
itu karena si pintar tidak mau memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya, atau bahkan tidak sadar apa yang dimilikinya.
sedangkan orang yang memiliki IQ standard (normal) bisa juga menjadi seorang jenius.
dulu, sewaktu SMA (atau SMP, saya lupa..)
saya pernah mendengar sebuah kasus tentang anak yang IQ nya dibawah rata-rata normal, namun sejak TK sampai saat itu dia mengikuti test IQ, prestasinya selalu cemerlang. tidak pernah lebih rendah dari ranking 3.
lalu dari mulut ibu-ibu jahat:
"ih,pasti nyogok gurunya tuh,biar anaknya ranking terus..."
berbeda lagi dari mulut ibu-ibu yang ingin anaknya seberuntung itu:
"aduh,itu si jeng anu,anaknya dikasih makan apa ya? apa pake vitamin ya? aduh,si jeng anu kasihin vitamin apa sih,kok anaknya bisa begitu.."
lain hal dengan ibu-ibu yang hampir putus asa:
"aduh,padahal udah dikasih vitamin segala macem lho anak saya, yang mahal-mahal lagi.. sampe saya gak bisa beli tas LV kulit kodok.. makanan udah saya kasih yang enak-enak. semua makanan harus dibeli di mall,atau supermarket besar dan ternama. les ini itu juga sudah. fasilitas tercukupi. apa yang kurang ya? dukun??"
satu lagi dari ibu-ibu yang gak mau kalah:
"ah liat aja. tahun depan anak saya yang ada di posisi paling atas. huu.. baru segitu aja sombong. anak saya dong, IQ nya gemilang,tampan,nurut sama orang tua,banyak deh.ini anak kebanggaan saya pokoknya.."
guess what the wise mothers say....
ia hanya berkata:
"anak saya mampu karena anak saya mau. serta motivasi dari seorang ibu yang ingin anaknya berhasil,walaupun dengan keterbatasan yang ada"
see? akhirnya semua tergantung.
tergantung niat atau tidak, dan bahkan ada yang berkata hal itu ditentukan oleh nasib.
ada sedikit rasa yang menurut saya kurang ok ketika saya mendengar "semua dientukan oleh nasib"
apa ya? um......
mungkin karena... terkesan klise,terkesan terlalu pasrah dengan apa yang terjadi, seolah olah istilah "life is a puppet show" itu benar-benar terjadi. well, sebenarnya Yang Diatas memang menentukan bagaimana hidup kita akan berjalan.
tapi hidup itu semua nya adalah pilihan. tergantung kita mau pilih apa. kalau kita hanya pasrah,bagaimana hidup bisa lanjut? milih aja enggak!
oke,mungkin kalian yang membaca sampai kalimat ini bertanya-tanya or misuh-misuh dalam hati:
"jadi yang mau elo omongin apa sih?? ngomongnya blibet bener!"
kesimpulannya adalah:
Jenius ditentukan dari seberapa keras kita berusaha menjadi jenius,yang mengerti bahwa masih banyak ilmu pengetahuan diluar sana.
(p.s: science has no limit)
No comments:
Post a Comment