butiran air itu kian lama kian membesar..
membuat sebuah lingkaran transparan diatas media itu
ya.
seperti itu. imajinasikan saja.
saat ini, saya sedang mencoba untuk flashback dan mencoba untuk merefleksikan apa yang menjadi sebab mata saya sembab.
mungkin karena saya mengingat bahwa masih banyak diluar sana yang hidupnya tidak seberuntung saya. keluarga komplit,kecuali kakek-kakek saya yang sudah almarhum, berkecukupan,fasilitas,dan segala hal yang mungkin tidak semua orang punya.
tapi entah mengapa kadang nurani saya terusik, selalu mencari apa yang salah.
entah.
belum bisa saya temukan sampai detik ini.
bagaikan durian yang tak berisi
mungkin itulah yang dapat saya ungkapkan sekarang ini.
atau, bagaikan tiram yang mandul
sangat elok bentuknya dari luar, tapi siapa yang tahu ternyata ia tak bermutiara
dipikir-pikir, saya juga bukan anak yang cantik,kok.. wajah saya standard,
bahkan beberapa dari lawan jenis saya mengatakan bahwa saya itu ada di kualitas "poor"
menyedihkan memang,tapi ya sebodo amat gitu loh,it's me,myself,if u just don't like me, don't ever give me that sh**
well,keluarga adalah keluarga.
walaupun hanya 2 orang atau 3 orang, itu tetap dihitung sebagai keluarga,lho.
the point is,tidak berpengaruh berapa jumlah anggota keluarga itu,asalkan lebih dari 1, yang penting adlah bagaimana mereka mampu untuk berinterkasi satu sama lain,saling mendukung,dsb.
then,
bagaimana dengan keluraga yang mungkin sudah tidak diragukan lagi validasi nya jika dibandingkan dengan syarat untuk menjadi sebah keluarga?
katakanlah,4 orang dalam 1 keluarga inti, 2 anak, 1 ayah dan 1 ibu.
tapi..
jika kita menelisik lebih jauh lagi..
ikatan batin? tentu ada!
ikatan secara emosional? um...?
terkadang memang uang bisa menjadi seperti Tuhan. seolah uang pun bisa membeli nasib.
Uang berkuasa di dunia. tanpa uang kemudian beruntut pada tanpa makanan, lalu kemudian mati.
anehnya,banyak orang kurang menyadari bahwa selama ini yang mereka sembah adalah uang. seolah agama hanya menjadi topeng.
oke..
saya juga gak mau munafik. saya juga makhluk hidup yang butuh uang. kecuali saya binatang buas, yang tidak perlu alat tukar untuk bertahan hidup, walaupun hanya sekedar membeli makanan barang limaribu rupiah.
itu dia mengapa saya menjelaskan begitu complicatednya uang dalam kehidupan manusia, yang mana manusia itu pada umumnya hidup dalam sebuah ikatan keluarga.
membingungkan ya?
begini, kalau ada 1orang di keluarga anda,misalnya,selalu mendewakan uang. prinsip hidupnya bahkan "Money is my Priority".
lalu bagaimana dengan Tuhan, yang seharusnya ditempatkan di posisi paling pertama atau bagaimana dengan keluarga?
di level manakah?
so,apa yang terjadi pada keluarga itu kemudian? fine,kalau dia adalah seorang anak. namun,jika tarafnya sudah menjadi orang tua? pantaskah?
alasan mereka selalu standard "ini semua untuk kalian. kami bekerja pagi siang malam hanya untuk kebahagiaan kalian"
jawaban si anak pun juga akan sama klise nya "kami butuh kasih sayang,bukan uang"
well,
2 hal ini memang susah ya dipisahkan. seperti hal nya pengemis dan kemiskinan, yang tampaknya juga susah tuh untuk dipisahkan. benar tidak?
saya pernah mendengar suatu kalimat yang pernah "menyadarkan" saya bahwa ternyata saya harus menurunkan berat badan saya (dulu,sewaktu saya masih 86 kilo)..
kalimatnya kira-kira seperti ini:
"semua yang berlebihan itu tidak baik. semuanya harus seimbang"
jujur, itu membuat saya berhenti menikmati makanan-makanan enak namun berlemak jahat. enak memang,dan boleh sih di konsumsi,asal tidak dalam jumlah yang banyak,apalagi over..
kembali lagi dengan keluarga itu,
uang dan kasih sayang.
yup!
kasih sayang tanpa uang juga mau makan apa? makan batu direbus? makan angin?
dan
apa jadinya harta berlimpah sampai bisa dibuat kasur uang tetapi sama sekali tidak ada perhatian dari anggota-anggota keluarga lainnya?
mau cerita sama siapa? duit?
(ini terlepas dari kemampuan uang untuk membeli orang,yang mau mendengarkan ceritanya)
ironis memang.
2 hal tersebut, saling bertentangan,tetapi faktanya demikian.
saya tidak bisa memilih,mana yang lebih baik,uang atau perhatian.
saya manusia normal.
saya butuh dua-duanya...
No comments:
Post a Comment